Sistem Pengapian Elektronik : Cara Kerja dan Komponen

Sistem Pengapian Elektronik – Pada dasarnya, sistem pengapian merupakan rangkaian yang tersusun secara sistematis yang berguna untuk menghasilkan percikan api pada busi. Hal ini dapat terjadi karena adanya loncatan listrik yang bertegangan tinggi pada koil.

Berdasarkan cara kerjanya, sistem pengapian terbagi ke dalam beberapa jenis, diantaranya adalah sistem pengapian konvensional, sistem pengapian transistor, sistem pengapian CDI, dan sistem pengapian DLI.

Sistem Pengapian ElektronikApa yang membedakan ke empat sistem pengapian tersebut? Pada sistem pengapian konvensional, sistem bekerja secara manual dengan menggunakan kontak platina sebagai pemutus arus listrik. Sedangkan pada sistem pengapian elektronik semua komponen telah bekerja secara elektronik dan otomatis untuk memutuskan arus primer.

Pada sistem CDI, kapasitorlah yang dimanfaatkan untuk pemutusan arus primer, biasanya digunakan pada motor. Sedangkan pada sistem pengapian DLI, justru sering diaplikasikan untuk kendaraan yang lebih modern, karema sistem ini tidak dilengkapi distributor dan hampir sama cara kerjanya dengan sistem pengapian transistor.

Inilah yang membedakan sistem pengapian transisitor dengan sistem pengapian lainnya. Untuk lebih jelas tentang apa dan bagaimana sistem pengapian transistor ini, maka berikut ulasannya.

Fokus pembahasan sistem pengapian elektronik (transistor) akan mengulas detail tentang kelebihan sistem ini dibading dengan sistem yang lain dan dan bagaimana sistem ini dapat bekerja?

Sistem pengapian transistor merupakan sistem yang unik dan memiliki banyak kelebihan dibanding sistem pengapian yang lain. Diantara salah satu kelebihannya adalah tidak perlu lagi melakukan penyetelan pada celah platina, karena pada sistem pengapian ini tidak memiliki kontak poin, melainkan telah terpasang otomatis saklar elektronik.

Fungsi saklar elektronik adalah sebagai transistor yang dapat menghubungkan dan memutuskan arus secara otomatis, sehingga cara manual dengan menyetel rutin celah platina tidak diperlukan lagi.

Kelebihan lain dari sistem pengapian elektronik adalah tidak adanya gesekan yang terjadi antara logam, seperti pada pengapian konvensional. Gesekan antar logam ini dinilai kurang efektif karena berbatas dengan jangka waktu.

Mengapa demikian? Karena gesekan yang terjadi antar logam tentu tidak akan bertahan lama. Bukan tidak mungkin hal tersebut lama-kelamaan akan menyebabkan keausan pada kedua logam yang selalu bergesekan tersebut. Hal ini jelas akan mengganggu sistem pengapian itu sendiri.

Itulah sebabnya pengapian transistor tidak memerlukan gesekan antar logam, karena salah satu komponennya adalah transistor unit yang berfungsi sebagai komponen utama dengan fungsinya menyambung dan memutuskan arus primer. Komponen ini yang menggantikan celah platina.

Walau begitu sistem pengapian elektronik ada juga yang masih menggunakan kontak platina, namun hal tersebut tidak digunakan untuk memutuskan arus primer coil, tetapi untuk memutuskan arus yang menuju kaki basis di transistor. Sistem ini disebut juga sistem semi transistor.

Sedangkan untuk sistem pengapian transistor yang 100% tidak menggunakan kontak platina dan semuanya elektrik dalam memutuskan arus kaki basis disebut sistem pengapian fully transistor. Sistem ini menggunakan alat igniter yang dapat mengirimkan sinyal sesuai waktu yang telah ditetapkan sistem pengapian dalam memutuskan arus di kaki basis transistor.

Komponen Sistem Pengapian Elektronik

Komponen Sistem Pengapian ElektronikUntuk lebih jelasnya, berikut adalah urutan beberapa komponen dalam sistem pengapian transistor yang akan dijelaskan sekaligus dengan fungsi dari masing-masing komponen tersebut.

1. Baterai

Pada sistem pengapian elektronik, baterai berguna untuk menyimpan sekaligus menyediakan pasokan arus listrik. Baterai ini biasa digunakan untuk keperluan elektrikal kendaraan bermotor.

2. Transistor Unit

Seperti ulasan sebelumnya bahwa transistor unit berguna sebagai komponen utama yang tugasnya menyambungkan dan memutuskan arus primer.

3. Ignition Coil

Fungsi utama dari komponen ini adalah untuk menaikkan tegangan secara spontan. Biasanya tegangan yang ditargetkan sampai 20 volt. Komponen ini bekerja secara induksi elektromagnetik, di mana terdapat kumparan dengan jumlah lilitan sekunder yang cukup banyak, alhasil hal ini dapat mempercepat timbulnya efek step-up.

4. Fully Transistor

Fully transistor pada sistem pengapian elektronik atau yang dikenal dengan pulse igniter merupakan komponen yang berfungsi mendeteksi waktu pengapian. Dalam hal ini deteksi waktu menghasilkan sinyal PWM yang digunakan untuk memutuskan arus basis pada transistor.

Cara kerja fully transistor adalah menggunakan prinsip elektromagnetik, di mana ada bahan magnet permanen yang berada di dekat motor yang tersambung dengan putaran mesin. Dari sini mesin yang memutar gigi motor akan memotong GGM pada magnet, sehingga menghasilkan sinyal PWM.

5. Distributor

Seperti halnya pengapian konvensional, distributor juga merupakan komponen yang penting karena komponen ini bertugas membagikan listrik yang bertegangan tinggi dari coil ekunder ke tiap busi sesuai dengan firing ordernya.

6. Busi

Komponen terakhir dalam sistem pengapian elektronik adalah busi. Busi ini berguna memercikkan api dalam slinder saat terjadi kompresi. Dalam hal ini busi menyalurkan listrik bertegangan tinggi dari koil sekunder melalui elektroda yang ada di busi.

Baca Juga Informasi VTCONLINE Lainnya
Penyebab Kipas Radiator Tidak BerputarBiaya Turun Mesin Motor
Sistem Pengapian Motor  Sistem Pengapian Mobil

Demikian ulasan detail tentang sistem pengapian elektronik mulai dari pengertian, perbedaan dan kelebihannya dibandingkan sistem pengapian yang lain, serta cara kerja dan beberapa komponen yang ada di dalamnya. Semoga artikel vtconline.co.id ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat.